Contoh Cerpen Kepahlawanan

Ini cerpen hasil karya sendiri. Cuman ingin berbagi, sapa tau bisa membantu. Jika ingin copas, please sertakan ‘source’!!

 

Batasan dan Perbedaan

 

            Langit teduh kebiruan memayungi dusun terpencil di lembah sunyi itu. Siang hari, matahari bersinar cerah menembus celah-celah rimbun dedaunan. Demikian sejuk angin yang berembus dari bukit-bukit yang mengelilingi dusun itu hingga di siang hari pun di bawah pohon adalah tempat favorit para warga melepas penat sehabis beraktivitas.

            Dusun Jati, begitulah orang menyebutnya. Tanah kelahiranku yang selalu kurinduhkan saat aku memutuskan menetap di Ibu Kota mengikuti suami tercinta.

~@®@~

            “Ibu sudah bilang, jangan bermain di rumah budhe Ira lagi!”

            “Tapi kenapa bu?”

            “Apa Tari lupa kalau Budhe Ira sedikit terganggu pikirannya setelah ditinggal meninggal Pakde Kun?”

            “Tari mana lupa hal itu.”

            “Lalu kenapa Tari masih juga bermain di sana?”

            “Budhe Ira kasihan, bu. Dia sendirian di rumahnya yang sepi itu.”

            “Ibu hanya takut kalau sampai Tari di apa-apakan Budhe Ira saat dia kumat.”

            “Memangnya kenapa Pakde Kun sampai meninggal bu?

            “Pakde Kun seorang Dokter, beliau bekerja di Ibu Kota yang jauh dari dusun kita ini. Tapi suatu hari Budhe Ira menangis dan menjerit sejadi-jadinya setelah tau peti Pakde Kun ada tepat di depan rumahnya.”

            “Kenapa Tari tak ingat kejadian itu, bu?”
            “Tari saat itu masih berumur 3 tahun, sayang.”

            “Apa tinggal di Ibu Kota bisa meninggal bu?”

            “Haha, bukan seperti itu maksud ibu. Pakde bukan hanya bekerja berdiam diri di Rumah sakit, tapi Pakde juga aktif berjuang mengobati orang sakit di luar Negeri yang terjebak perang.”

            “Kalau dewasa nanti Tari tak ingin punya suami dokter, bu. Tari takut.”

            “Iya, Ibu mengerti.”

~@®@~

            “Tar, mulai minggu depan aku akan ditugaskan di Ibu kota. Jaga kesehatanmu baik-baik!” Mas Deni menjatuhkan diri di sofa keras milik kami.

            Sudah genap sebulan ini aku dan Mas Deni menjalani hidup seatap sebagai pasangan suami istri. Aku yang hanya seorang guru TK yang siapa sangka dapat bertemu Mas Deni saat mengantar siswaku yang pingsan tiba-tiba. Dinding puskesmas bercat cream yang telah dipenuhi bercak coklat akibat merembesnya air hujan menjadi saksi awal bertemunya aku dan Mas Deni. Tak pernah terpikir olehku akan menjadi istri seorang Dokter. Hal yang paling aku benci dan hindari sekarang mendadak memeluk dan memasuki tubuhku serta kehidupanku secara paksa. Takdir. Itulah sebuah keajaiban yang harus kupatuhi meskipun aku menolak dan menghindarinya sekuat tenaga.

            Mas Deni mengapai tangan kiriku dan mengenggamnya kuat. Seakan menyalurkan kekuatannya bahwa hari esok nanti akan baik-baik saja, meskipun untuk sementara waktu aku tak akan membuatkan sarapan, makan siang ataupun makan malam untuk 2 porsi. Jelas, untuk aku satu dan untuk Mas Deni satu. Bagaimana kalau bukan sementara? Bagaimana kalau Mas Deni pergi dan tak kan kembali?

            Itulah yang menjadi momok saat aku memutuskan menerima lamarannya 1 bulan yang lalu. Mengikhlaskan seluruh hidupku untuk menemaninya. Mengingkari janji saat kecilku pada Ibu jika dewasa nanti tak ingin menikah dengan seorang dokter. Dan terakhir yang membuatku takut setengah mati, aku benar-benar takut Mas Deni mengatakan kata itu. Aku rela jika Mas Deni memarahiku ataupun mengatakan kata yang menyinggungkan. Tapi jangan mengatakan kata itu, kata dia akan meninggalkanku. Apakah semua istri seorang dokter akan mengalami nasib sepertiku?

            “Masa percobaannya cuma 6 bulan setelah itu aku kembali, tapi…” Mas Deni menggantungkan ucapannya. Aku meneguk ludahku dalam.

            “Aku tak boleh pulang kemari lagi. Karena sepenuhnya aku harus rela tinggal di sana.” Lanjut Mas Deni sambil menatapku memelas. Aku tersenyum kecut.

            “Ok! Aku mengijinkan Mas pergi, tapi ijinkan juga aku tinggal di Ibu kota!” Sekilas wajah Mas Deni terlihat kaget dengan ucapanku. Setelahnya ia tersenyum dan memelukku “Baiklah” gumamnya tepat di telingaku.

~@®@~

            Bukan hal yang baru aku melangkahkan kaki di Ibu kota. Saat mengambil kuliah, aku memutuskan untuk belajar di Universitas Gajah Mada. Aku telah membulatkan tekad, meninggalkan dusun yang tenang dan damai juga keluarga tercinta hanya untuk memastikan Mas Deni baik-baik saja di sini. Dan juga mencoba hal baru dengan hidup di keramaian yang pernah aku alami saat masa kuliah.

            Setelah pindah, aku memutuskan untuk bekerja di rumah saja. Membuka toko kelontong bukan hal yang buruk. Dan Mas Deni? Ia juga baik-baik saja dengan pekerjaannya.

            “Jika aku harus pergi ke luar benua apa Tari juga akan mengikutiku?” tiba-tiba Mas Deni menanyakan hal aneh itu padaku. Dengan cepat aku meresponnya.

            “Tentu saja, bahkan sampai di lubang semut sekalipun, Mas.” Ia tersenyum mendengarnya. Aku tak tau apa yang akan dia rencanakan sekarang. Aku hanya berdoa semoga semuanya berjalan dengan baik.

            Benar saja, setelah 6 bulan berlalu tak pernah terpikir olehku akan muncul kata-kata dari bibir Mas Deni yang membuat kakiku serasa melayang.

            “Uji coba 6  bulan telah berlalu, sekarang pekerjaanku yang sebenarnya akan dimulai.”

            Begitu lembut ia mengatakannya, tapi tetap saja itu membuat hatiku mencelos begitu saja. Tak tanggung-tanggung yang ia katakan. Kamboja. Negara yang kutau dari Mas Deni sedang terjebak perang. Ia akan memberikan segalanya di sana, tak peduli dengan istri ataupun keluarganya. Bahkan pernikahan kita belum genap setahun.

            “Apa tak cukup dengan pergi tengah malam demi pasien? Pasien di sini sudah merepotkan, mas. Apalagi pasien di sana.” Egoisku muncul. Aku tak sanggup mendengar kata ‘Pergi’ lagi.

            “Bahkan aku ingin melakukan lebih dari ini, Tar.” Aku tertegun heran. Mas Deni menuntunku duduk di pinggir kasur.

            “Dulu aku ingin menjadi tentara. Berangkat dengan nama baik negara dan pulang dengan nama baik keluarga. Tapi takdir memutuskan untuk menjadi dokter.”

            “Di sini banyak yang membutuhkanmu, mas. Buat apa harus pergi sejauh itu?” Mataku mulai memanas.

            “Hanya seperti ini aku merasa seperti tentara. Inilah panggilan jiwaku, Tar.”

            “Kalau begitu aku harus ikut! Harus!”

            “Kali ini jangan!” Akhirnya air mataku lolos. Aku semakin menangis melihat Mas Deni dengan cekatan memasukkan bajunya ke dalam tas.

            “Tapi kenapa, mas?” tanyaku lirih dan hampir tak terdengar. Rasa takut itu kembali muncul dalam benakku. Berputar-putar dan memenuhi pikiranku.

            “Apa ada seorang tentara membawa istrinya di medan perang?”

            “Lihat kenyataan, mas! Kau itu hanya dokter, tak lebih. Aku bisa membantumu di sana.” Ku kuatkan hatiku.

            “Aku hanya ingin ada yang mau mendoakanku dari sini dan menungguku pulang dengan selamat. Tari pasti akan mengerti suatu saat nanti.” Mas Deni mengecup keningku. Aku hanya bisa menangis dan menangis. Menyerah pada keinginannya.

~@®@~

            Kubersihkan alat-alat logam yang telah kusam ini. Terlihat bercak kecil berkarat namun nampak jelas di bagian sisi-sisinya. Dan pasti kau akan merasakan dingin yang khas jika alat ini menyentuh kulit dadamu. Dan telah menjadi rutinitasku berkutat dengan beberapa alat yang seharusnya berada di Rumah sakit ini. Teringat kembali siapa pemiliknya dan kugapai selembar kertas dengan tulisan ‘Penghargaan’ di bagian atasnya yang di cetak tebal yang berada di dekat alat-alat tadi.

            Tertulis nama ‘Dwi Deni Wibowo’ di sana. Akhirnya cita-citanya terwujud. “Berangkat dengan nama baik negara dan pulang dengan nama baik keluarga.” Niatan yang sungguh mulia. Dan aku baru menyadarinya saat ia hanya pulang dengan nama. Meninggalkan istri yang tengah mengandung janin yang baru genap berumur 1 bulan. Kesalahanku adalah tak membiarkan ia tau bahwa aku sedang mengandung anaknya. Tapi jika dia tau, apakah ia akan tetap di sini? Entahlah.

            “Ibu, Satria sudah menunggu.” Kudongakkan kepalaku, menatap putri semata wayangku yang tengah tersenyum. Matanya yang teduh itu sungguh persis ayahnya. Mata itu yang membuatku jatuh cinta. Ia mengenggam tanganku. Dan menuntunku ke ruang tamu. Menuju pemuda yang dicintainya. Mungkin mereka meminta izin untuk bertunangan atau mungkin, menikah.

            “Maaf nak sudah menunggu.”

            “Tak apa-apa bu.” Pemuda ini menyalamiku dan duduk di sampingku. Sopan sekali perilakunya.

            “Jadi apa pekerjaanmu, nak?” Aku juga seorang ibu yang hanya ingin melihat anakku bahagia di masa depan. Tak lebih. Ia hanya tersenyum dan malah memandang anakku. Sekilas aku juga ikut menatap Jihanku. Dan ada apa ini? Jihan hanya menunduk.

            “Ada apa, han? Hmm?”

            “Satria adalah calon dokter, bu.” Ucapnya lirih. Ku genggam tangannya erat. Aku tau, Jihan terlalu memikirkan perasaanku. Ia tak ingin melihatku terluka dengan masa lalu ayahnya sendiri. Dan ia melihat sendiri sebuah peti dengan berpuluh-puluh orang memasuki rumah sederhana kami. Saat itu ia masih berumur 5 tahun. Dengan takut ia terus bertanya padaku ‘kenapa ibu menangis?’.

            “Kalau kalian yakin, ibu menyetujui kok.” Mereka berdua memelukku. Aku tak ingin egois. Aku malah tak ingin melihat Jihan menderita hanya karena egoku.

            “Terima kasih ibu.”

            “Aku janji, bu. Akan menjaga Jihan dengan baik.”

            “Jangan berjanji padaku, berjanjilah pada Jihan, nak.”

            Takdir. Hal itulah yang telah menyelimuti kehidupanku. Sejauh apa kau berlari, maka saat kau berhenti kau akan bertemu dengan takdir yang telah kau jauhi sebelumnya. Mas Deni, aku tak ingin anak kita bernasib sama sepertiku. Sudah cukup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s